image-slider

Supporting champions of the new economy

More About Our Portfolio
August 28 2018

Tinggalkan Sistem Marketplace, Jendela360 Tawarkan Cara Berbeda Mencari Apartemen

Seorang pebisnis di bidang pengemasan makanan, Ade Indra, sering kali mengalami pengalaman buruk ketika bertemu dengan agen properti. Menurutnya, banyak dari mereka yang tidak profesional, meremehkan pembeli, hingga memberikan foto yang tidak representatif. Hal ini kemudian ia sampaikan kepada rekannya yang mempunyai pengalaman sebagai agen properti, yaitu Kiki Guzali. Keduanya kemudian memutuskan untuk membuat sebuah situs penyewaan apartemen bernama Jendela360. Sesuai namanya, perbedaan mereka dengan situs-situs lain adalah keberadaan foto 360 derajat untuk setiap apartemen yang mereka tawarkan. Telah melayani ratusan transaksi Jendela360 mulai dibangun sejak pertengahan tahun 2016. Setelah proses pengembangan situs selama dua bulan, mereka kemudian meluncur pada bulan Oktober 2016. Lewat situs mereka, kamu bisa memilih apartemen yang kamu inginkan berdasarkan lokasi, luas ruangan, hingga harga sewa. “Saat ini telah ada sekitar 1.300 unit apartemen di Jendela360 yang dilengkapi dengan tampilan foto 360 derajat,” ujar Kiki kepada Tech in Asia Indonesia. Untuk mendapatkan pemasukan, Kiki menyatakan kalau pihaknya menarik komisi sebesar lima persen dari pemilik apartemen, untuk setiap transaksi yang berlangsung lewat Jendela360. Sejauh ini, ia mengaku telah melayani sekitar 120 transaksi. Sampai sekarang Jendela360 masih beroperasi dengan uang pribadi para founder (bootstrap). Mereka telah mempunyai delapan belas anggota tim, dengan tiga belas orang di antaranya merupakan tim operasional. Indonesia tidak butuh marketplace baru Contoh gambar 360 derajat dari apartemen yang ditawarkan Jendela360 Kebanyakan situs penyewaan apartemen di tanah air, seperti Rumah123, lebih memilih untuk menghubungkan agen properti dan pengguna dengan sistem marketplace. Namun Jendela360 justru memilih untuk langsung menjadi agen properti. Mereka bahkan telah mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) untuk bisnis tersebut. “Saat ini kita tidak kekurangan marketplace. Masalah terbesar dalam bisnis properti adalah banyaknya agen yang takut datanya dicuri dan tidak memiliki standar yang baik dalam beroperasi,” tutur Kiki. Itulah mengapa ia lebih memilih untuk menjadi agen properti yang memberikan informasi secara transparan, dengan layanan yang tidak kalah dengan agen-agen lain. Mereka juga menghadirkan sistem pembayaran dengan metode cicilan agar lebih memudahkan pengguna. Kiki menyatakan kalau pihaknya pada saat ini masih menghadapi tantangan dalam memperkenalkan Jendela360 dan menambah jumlah pengguna. “Padahal, banyak orang yang justru mengurungkan niat untuk pindah ke apartemen, hanya karena mereka kesulitan dalam mencari informasi,” pungkasnya. Teknologi gambar dan video 360 derajat sepertinya akan menjadi semacam tren dalam berbagai bisnis, mulai dari properti, otomotif, hingga wisata. Platform otomotif Oto bahkan telah menyatakan kalau mereka akan memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghadirkan gambar 360 derajat dari sisi dalam mobil, yang nantinya bisa ditunjukkan oleh dealer kepada para calon pembeli. Originally published by Iqbal Kurniawan id.techinasia.com

August 29 2018

Aino Process 102 M e-Money Transaction for Mass Transport Services

PT Aino Indonesia (Aino), a subsidiary of PT Gamatechno Indonesia, a business unit of PT Gama Multi Usaha Mandiri, fully supports the Bank Indonesia National Movement of Non-Cash (GNNT) by providing customized solutions of electronic money, especially for public transport which suits to the characteristics of electronic money that is intended for micropayment and quick transactions. President Director of PT Aino Indonesia, Hastono Bayu, said by maximizing inter-usability, inter-modality, inter-availability, and the inter-operability of electronic money cards in the city, the use of cash and extortion practices can be minimized. "Currently, AINO is the nation's first and only one system integrator in Indonesia that has integrated 6 electronic money banks in the payment acceptance system (Joint e-Money Reader)," said Hastono, Wednesday (2/11) in the press release. He explained that since 2013, AINO is a financial technology company that builds multi-platform payment acceptance as solutions of integrated Less Cash City. With a portfolio of e-ticketing system of Trans-Jogja bus, Trans-Solo, and Trans-Jakarta, various tourist rides, parking payments of Terminal 3 Ultimate at Soekarno Hatta Airport and the toll road payment in Juanda toll roads and payment solutions for roadside parking at Electronic Parking Terminal Jakarta. "In 2015, Aino has listed 102 million of electronic money transactions, the equivalent of 19% of the national electronic money transactions," he said. To further extend the benefits of the system, Aino gains the trust of investors such as Frontier Capital, IndoGen Ventures, Semeru Venturra Indonesia, and PT Saga Mas. With the motto “Delivering New Hope”, Aino’s solutions are ready to embody the vision of city leader to welcome the advanced, transparent, cashless, and accurate transaction in the urban community. Aino Payment Platform is ready to establish strategic cooperation with publishers of electronic money, service providers, retailers, and users of electronic money in general to realize Less Cash City system. With a national product, Aino seeks to contribute to the people of Indonesia in particular. (UGM / adelily) Originally published by marwati ugm.ac.id

August 14 2018

Indonesian B2B e-commerce platform Bizzy acquires Alpha

Indonesian B2B e-commerce and e-procurement platform Bizzy announced that it has acquired B2B online pha for an undisclosed sum, according to a report by DailySocial. The Jakarta-based startup also announced the appointment of Alpha CEO and Founder Andrew Mawikere as its new CEO, with current CEO Peter Goldsworthy being appointed as new President. Interestingly, Mawikere is known as Co-Founder and former CEO of Mbiz, a B2B/G e-commerce and e-procurement platform known as Bizzy’s direct competitor in the sector. In his LinkedIn profile, though there is no entry explaining his new positions at Alpha and Bizzy, it is stated that February 2017 was the last month of his tenure as Mbiz CEO. As for Alpha, the startup focusses on distribution of raw materials, spare parts, and raw materials. Bizzy stated that the acquisition helps the company strengthen its offering in the B2B sector. According to SMDV Managing Partner Roderick Purwana, as an investor to Bizzy alongside Ardent Capital and Maloekoe Venture, an end-to-end B2B e-procurement service that provides direct and indirect materials for businesses will be “the next big thing” in Indonesia’s digital sector, after fintech and e-commerce. In January 2016, Bizzy announced the appointment of senior software developer Norman Sasono as its Chief Innovation Officer. On its launch in July 2015, the startup raised a US$2.5 million funding round led by Ardent Capital. It implements a “crossdocking” system where it integrates multiple shipments from multiple vendors under fulfillment centres operated by e-commerce enabler company aCommerce. Originally published by Anisa Menur A. Maulani in e27.co

See More
Entrepreneur
Investor
Student
meaningful connections between community members that is inducive to synergies, partnerships, and collaboration.
400 + Community Members